Di Dusun Lendang Galuh, Desa
Sokong, Kecamatan Tanjung, bunyi Gendang Beleq tidak hanya hadir sebagai
pertunjukan adat, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mempertemukan
masyarakat dalam relasi kebersamaan. Dalam konteks tersebut, Sanggar Tunas Jaya
tumbuh sebagai salah satu kelompok seni yang berupaya menjaga keberlangsungan
tradisi melalui praktik kolektif yang sederhana, meskipun berada dalam situasi
yang penuh keterbatasan.
Kelompok ini berdiri pada tahun
2019 dan dipimpin oleh Budiyasa (51). Meskipun belum memiliki legalitas formal,
keberadaan sanggar tetap memperoleh pengakuan sosial dari masyarakat sekitar.
Dengan jumlah anggota sekitar 50 hingga 52 orang, Sanggar Tunas Jaya
memperlihatkan bagaimana Gendang Beleq masih menjadi medium yang mampu
menghimpun keterlibatan lintas generasi, mulai dari usia sekolah menengah
pertama hingga anggota senior berusia lebih dari lima puluh tahun.
Namun demikian, regenerasi dalam
kelompok ini tidak berlangsung melalui sistem pendidikan seni yang terstruktur.
Proses pembelajaran berlangsung secara lisan dan berbasis praktik langsung.
Beberapa anggota yang pernah terlibat dalam kelompok Gendang Beleq lain
kemudian mentransmisikan pengetahuan musikal kepada anggota baru melalui
pengamatan dan latihan bersama. Dalam situasi ini, pengetahuan tidak dipahami
sebagai materi formal yang diajarkan secara sistematis, melainkan sebagai
pengalaman yang diwariskan melalui keterlibatan kolektif.
Model regenerasi yang berkembang di
Sanggar Tunas Jaya juga memperlihatkan pola sosial khas komunitas lokal.
Perekrutan anggota baru dilakukan melalui sistem malekang, yaitu
mengikuti atau “mengejar” anggota lain yang lebih dahulu bergabung. Sistem ini
menunjukkan bahwa keberlanjutan kelompok tidak hanya bergantung pada minat
individual, tetapi juga pada kedekatan sosial dan pengaruh jaringan pertemanan
di lingkungan sekitar. Dalam proses tersebut, anggota baru dikenakan biaya
sekitar Rp500.000 sebagai bentuk kontribusi awal terhadap kelompok.
Aktivitas latihan biasanya
dilakukan satu kali dalam seminggu dan dapat meningkat menjadi dua kali ketika
mendekati pertunjukan. Intensitas latihan yang terbatas tidak hanya dipengaruhi
oleh kesibukan anggota, tetapi juga oleh kekhawatiran terhadap kondisi alat
musik yang mulai mengalami kerusakan, khususnya pada instrumen reong dan
ceng-ceng. Kekhawatiran ini menunjukkan bahwa keberlangsungan tradisi tidak
hanya bergantung pada keberadaan pelaku, tetapi juga pada kemampuan kelompok
dalam menjaga infrastruktur musikal yang mereka miliki.
Dalam praktik musikalnya, Sanggar
Tunas Jaya memainkan beberapa gending seperti Manuk Belage, Arje,
dan Hujan Mas. Akan tetapi, para pelaku mengakui bahwa ketika gending
baru mulai dipelajari, sebagian repertoar lama perlahan terlupakan. Situasi ini
memperlihatkan adanya negosiasi antara kebutuhan inovasi dan risiko hilangnya
ingatan musikal lama. Tradisi, dalam konteks ini, bergerak secara dinamis—tidak
sepenuhnya statis, tetapi juga tidak sepenuhnya bebas dari ancaman erosi
pengetahuan.
Secara sosial, keberadaan sanggar
dipahami masyarakat sebagai sarana komunikasi dan silaturahmi. Fungsi ini
memperlihatkan bahwa Gendang Beleq tidak semata-mata diposisikan sebagai
hiburan atau komoditas pertunjukan, melainkan sebagai medium yang menjaga
relasi sosial antarwarga. Oleh karena itu, keberadaan kelompok seni seperti
Sanggar Tunas Jaya memiliki fungsi sosial yang melampaui aspek artistik semata.
Dari sisi ekonomi, kelompok ini
bertahan melalui pola pembiayaan yang relatif mandiri. Modal awal diperoleh
melalui pengajuan proposal kepada pihak dewan, sementara pemasukan utama
berasal dari honor pertunjukan dan kontribusi anggota. Untuk wilayah dalam
kota, tarif pertunjukan berkisar sekitar Rp2.500.000, sedangkan untuk luar
daerah dapat mencapai Rp5.000.000 hingga Rp6.000.000. Namun demikian, jangkauan
pertunjukan mereka sejauh ini baru sampai wilayah Kecamatan Gangga dan belum
mencapai luar daerah secara lebih luas.
Sebagian besar pemasukan kelompok
tidak langsung dibagikan kepada anggota, tetapi dimasukkan ke dalam kas untuk
kebutuhan perawatan alat. Pembagian honor kepada anggota hanya dilakukan dalam
situasi tertentu, misalnya ketika tampil di hotel dengan nominal sekitar
Rp100.000 per orang. Hal ini memperlihatkan bahwa orientasi ekonomi kelompok
masih berfokus pada keberlangsungan kolektif dibandingkan keuntungan
individual.
Relasi Sanggar Tunas Jaya dengan
sektor pariwisata mulai terlihat melalui keterlibatan mereka dalam pertunjukan
hotel. Pada tahun 2025, kelompok ini tampil di hotel dengan honor sekitar
Rp2.500.000, kemudian kembali tampil pada perayaan tahun baru 2026 dengan honor
sekitar Rp3.500.000. Pengalaman tersebut dipandang lebih menguntungkan
dibandingkan pertunjukan adat seperti nyongkolan, karena dinilai tidak
terlalu melelahkan tetapi memberikan pendapatan yang lebih besar.
Meski demikian, keterlibatan dalam
ruang pariwisata juga membawa perubahan tertentu pada format pertunjukan.
Durasi sajian sering kali dipersingkat untuk menyesuaikan kebutuhan tamu hotel.
Dalam konteks ini, terjadi proses komodifikasi budaya, di mana pertunjukan
tradisi mulai dinegosiasikan berdasarkan kebutuhan industri wisata. Akan
tetapi, para pelaku tidak sepenuhnya menolak kondisi tersebut. Sebaliknya,
mereka melihat pariwisata sebagai peluang ekonomi yang dapat membantu
keberlanjutan kelompok.
Pandangan tersebut terlihat dari
sikap para pelaku yang mendukung Gendang Beleq sebagai identitas budaya Lombok
Utara dalam konteks pariwisata. Akan tetapi, dukungan tersebut belum diikuti
oleh sistem promosi yang memadai. Hingga saat ini, strategi promosi masih
mengandalkan komunikasi dari mulut ke mulut. Latihan yang terdengar oleh
masyarakat sekitar kemudian menjadi media penyebaran informasi yang secara
tidak langsung memperluas jaringan pertunjukan mereka.
Di sisi lain, tantangan utama yang
dihadapi kelompok ini justru terletak pada keberlanjutan regenerasi. Menurut
para pelaku, sebagian anak muda kini lebih tertarik pada musik populer
dibandingkan Gendang Beleq. Kekhawatiran semakin besar karena para maestro dan
anggota senior mulai bertambah usia. Situasi tersebut menghadirkan ancaman
serius terhadap keberlangsungan transmisi pengetahuan musikal di masa
mendatang.
Persoalan lain muncul dari minimnya
dukungan kelembagaan. Para pelaku mengaku belum pernah memperoleh bantuan
pemerintah secara langsung, meskipun telah beberapa kali mengajukan proposal.
Mereka juga merasa belum pernah dilibatkan dalam perumusan kebijakan budaya
maupun agenda pariwisata daerah. Dalam pengalaman mereka, bantuan sering kali
dianggap hanya berputar pada kelompok tertentu, sementara kelompok lain
kesulitan mengakses dukungan yang sama.
Karena itu, harapan utama yang
muncul bukan semata-mata terkait popularitas atau prestasi festival, melainkan
keberlangsungan dasar kelompok itu sendiri. Bantuan untuk perbaikan alat,
dukungan pembinaan, dan fasilitasi ruang tampil dipandang jauh lebih penting
dibandingkan pencapaian simbolik. Dalam pandangan mereka, tanpa dukungan nyata
terhadap kebutuhan dasar tersebut, keberlanjutan Gendang Beleq akan semakin
rentan di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.
Pada akhirnya, Sanggar Tunas Jaya
memperlihatkan bahwa keberlangsungan tradisi sering kali bertumpu pada
ketekunan komunitas kecil yang bekerja dalam keterbatasan. Tradisi tidak selalu
bertahan melalui dukungan institusi besar, tetapi melalui latihan yang terus
dilakukan, alat yang terus dirawat, dan relasi sosial yang tetap dipelihara.
Selama bunyi Gendang Beleq masih dimainkan di ruang-ruang sederhana seperti
Dusun Lendang Galuh, selama itu pula ingatan kolektif masyarakat Sasak tetap
memiliki ruang untuk hidup dan diwariskan.

0 Komentar