Di Dusun Loloan, Desa Loloan, suara Gendang Beleq masih terus hidup melalui aktivitas Sanggar Taruna Asih. Bagi masyarakat setempat, keberadaan kelompok ini tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial yang tumbuh bersama komunitas. Dipimpin oleh Wirnadi (34 tahun), sementara perjalanan kelompok banyak dituturkan oleh Amaq Rusni yang telah berusia sekitar 60 tahun, Sanggar Taruna Asih menjadi salah satu kelompok yang cukup lama bertahan dalam dinamika perkembangan seni tradisi di Lombok Utara.

Jejak awal kelompok ini sebenarnya telah muncul sejak dekade 1990-an melalui aktivitas pertunjukan drama tradisional yang berkembang di lingkungan masyarakat. Dari ruang kesenian itulah kemudian tumbuh keinginan untuk membentuk kelompok Gendang Beleq yang lebih terfokus. Pada sekitar tahun 2001, kelompok ini mulai berkembang sebagai Sanggar Taruna Asih sebagaimana dikenal masyarakat hari ini. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa Gendang Beleq di Loloan tidak lahir secara terpisah, melainkan berkembang dari tradisi kesenian masyarakat yang telah lebih dahulu hidup di lingkungan mereka.

Sebagaimana banyak kelompok seni tradisi berbasis komunitas lainnya, keberadaan Sanggar Taruna Asih dibangun melalui semangat kolektif masyarakat. Instrumen pertunjukan yang dimiliki kelompok diperoleh melalui hasil patungan warga secara bersama-sama. Bagi masyarakat, kepemilikan alat bukan hanya persoalan fasilitas pertunjukan, tetapi juga simbol kebersamaan dalam menjaga keberlangsungan tradisi. Hingga saat ini, kelompok masih merawat seperangkat alat dengan gong berbahan perunggu yang dianggap memiliki kualitas bunyi lebih baik dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi anggota kelompok.

Secara organisasi, Sanggar Taruna Asih memiliki sekitar 35 hingga 40 anggota sekaha dengan rentang usia sekitar 17 hingga 45 tahun. Menariknya, beberapa anggota juga berasal dari luar wilayah Loloan, sehingga kelompok ini berkembang tidak hanya sebagai komunitas kampung, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antaranggota yang memiliki minat yang sama terhadap Gendang Beleq. Latihan biasanya dilakukan secara temporer, sekitar satu hingga dua kali, menyesuaikan dengan kebutuhan pementasan dan kesibukan anggota masing-masing. Pola tersebut menunjukkan bahwa aktivitas berkesenian berjalan berdampingan dengan rutinitas pekerjaan sehari-hari masyarakat.

Dalam praktik musikalnya, kelompok ini memainkan sekitar 20 repertoar gending. Secara umum, gending yang dimainkan tidak jauh berbeda dengan kelompok Gendang Beleq lainnya di Lombok Utara. Namun, perbedaan utama terletak pada versi tabuhan dan pola kreasi musikal yang dikembangkan masing-masing kelompok. Dalam konteks ini, kreativitas musikal menjadi ruang penting bagi Sanggar Taruna Asih untuk membangun identitas bunyi mereka sendiri, meskipun tetap berada dalam kerangka tradisi Gendang Beleq Sasak.

Dalam kehidupan sosial masyarakat, Gendang Beleq Sanggar Taruna Asih digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari prosesi adat hingga kegiatan penyambutan tamu. Pada musim ramai, kelompok ini dapat tampil sekitar lima hingga enam kali. Wilayah pementasan tidak hanya berlangsung di sekitar kampung atau wilayah Tanjung, tetapi juga menjangkau daerah lain seperti Bayan dan kawasan wisata Senaru.

Dalam konteks ekonomi pertunjukan, tarif yang diterapkan menyesuaikan lokasi dan kebutuhan kegiatan. Untuk pementasan di wilayah seperti Bayan, tarif berkisar sekitar Rp3.500.000 di luar biaya transportasi. Sementara untuk pertunjukan luar daerah yang membutuhkan menginap, tarif dapat mencapai Rp5.000.000 hingga Rp6.000.000. Adapun untuk kegiatan penyambutan tamu di kawasan wisata seperti Senaru, kelompok biasanya menerima sekitar Rp2.500.000 dengan ketentuan makan dan transportasi ditanggung sendiri. Dalam satu kali pertunjukan, jumlah pemain yang terlibat dapat mencapai sekitar 30 orang sehingga pendapatan yang diperoleh kemudian dibagi bersama di antara anggota.

Menariknya, dalam praktik sosial kelompok ini masih terdapat sejumlah ketentuan adat yang terus dijaga. Salah satunya berkaitan dengan penggunaan gong, di mana terdapat syarat berupa beras benang sebagai bagian dari tradisi yang harus dipenuhi. Namun, apabila kegiatan melibatkan anggota internal kelompok sendiri, ketentuan tersebut biasanya tidak diberlakukan secara khusus. Praktik tersebut menunjukkan bahwa di balik fungsi hiburan dan pertunjukan, Gendang Beleq masih menyimpan dimensi simbolik dan penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Pendapatan dari pertunjukan umumnya digunakan untuk kebutuhan kas kelompok, terutama untuk pengadaan dan perawatan alat musik. Namun bagi sebagian besar anggota, aktivitas berkesenian tetap lebih dipahami sebagai hobi dan ruang kebersamaan dibandingkan sebagai sumber penghasilan utama. Di tengah perubahan sosial masyarakat, Sanggar Taruna Asih tetap menjadi ruang tempat tradisi dipelihara melalui pertemuan, latihan, dan pengalaman bermain bersama.

Keberadaan kelompok ini memperlihatkan bahwa keberlangsungan Gendang Beleq tidak hanya bergantung pada panggung festival atau program formal pemerintah, tetapi juga pada kekuatan komunitas lokal dalam menjaga tradisi mereka sendiri. Melalui semangat kolektif masyarakat, patungan alat, latihan yang terus berjalan, dan keterlibatan lintas generasi, Sanggar Taruna Asih menjadi bagian dari denyut panjang kehidupan budaya masyarakat Lombok Utara.