Di Dusun Getak Gali, Desa Sokong,
Kecamatan Tanjung, keberadaan Gendang Beleq tidak hanya dipahami sebagai bagian
dari tradisi pertunjukan adat, tetapi juga sebagai ruang sosial tempat
masyarakat membangun kembali hubungan kolektifnya. Dalam konteks tersebut,
Sanggar Martasari Sokong lahir bukan semata sebagai kelompok seni, melainkan
sebagai respons sosial dan kultural pascagempa Lombok 2018. Di tengah situasi
yang penuh ketidakpastian saat itu, kelompok ini menjadi salah satu medium yang
mempertemukan kembali masyarakat melalui bunyi, latihan, dan aktivitas bersama.
Didirikan pada tahun 2018, Sanggar
Martasari Sokong dipimpin oleh Irfan (42) dengan jumlah anggota sekitar 50
hingga 52 orang. Basis komunitasnya berada di Dusun Getak Gali dan hingga kini
belum memiliki legalitas formal. Meskipun demikian, keberadaan kelompok ini
tetap hidup melalui dukungan sosial masyarakat dan keterlibatan generasi muda
yang cukup aktif dalam aktivitas latihan maupun pertunjukan.
Komposisi anggota kelompok
memperlihatkan rentang usia yang cukup luas, mulai dari remaja usia sekolah
menengah pertama hingga anggota senior berusia sekitar empat puluh lima tahun.
Struktur keanggotaan yang terbuka membuat kelompok ini berkembang sebagai
“gamelan gubug”, yaitu ruang belajar yang relatif cair dan tidak terlalu
dibatasi oleh syarat formal. Siapa saja dapat bergabung selama mampu mengikuti
aturan bersama atau awik-awik yang berlaku di lingkungan sanggar,
terutama terkait kedisiplinan dan larangan membuat keributan. Dalam konteks
ini, keberadaan sanggar tidak hanya menjadi ruang belajar musikal, tetapi juga
ruang pembentukan etika sosial di kalangan generasi muda.
Proses pembelajaran dalam kelompok
berlangsung sepenuhnya secara lisan dan berbasis praktik langsung. Pengetahuan
musikal ditransmisikan melalui latihan rutin, pengamatan, dan keterlibatan
langsung dalam pertunjukan. Peran pelatih dipegang secara sukarela oleh Radit
dari Karang Langu yang memiliki hubungan persahabatan dengan salah satu anggota
senior, Supiar (45). Situasi ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan Gendang
Beleq di tingkat komunitas sering kali bertumpu pada jaringan sosial informal,
bukan pada sistem kelembagaan yang mapan.
Latihan biasanya dilakukan dua kali
dalam seminggu, yakni pada malam Selasa dan malam Sabtu. Intensitas tersebut
menunjukkan adanya upaya menjaga konsistensi musikal di tengah keterbatasan
fasilitas dan kondisi ekonomi anggota. Dalam praktik musikalnya, Sanggar
Martasari Sokong memainkan beberapa repertoar seperti Pelawakla, Asmarandana,
Manuk Belage, dan Turun Tangis. Repertoar tersebut tidak hanya
menjadi bagian dari sajian hiburan, tetapi juga penanda kesinambungan
pengetahuan musikal yang diwariskan secara turun-temurun.
Sebagian besar pertunjukan kelompok
ini masih berada dalam konteks adat, khususnya nyongkolan. Frekuensi
pertunjukan bersifat fluktuatif; dalam satu bulan mereka dapat tampil hingga
empat kali, tetapi pada waktu tertentu juga dapat tidak memperoleh pekerjaan
sama sekali. Ketidakstabilan tersebut memperlihatkan bahwa keberlangsungan
kelompok seni tradisi sangat dipengaruhi oleh dinamika sosial-ekonomi
masyarakat sekitar.
Di sisi lain, Sanggar Martasari
Sokong memiliki sistem pengelolaan ekonomi yang cukup kolektif. Pendapatan dari
pertunjukan dibagikan kepada anggota, tetapi sebagian tetap disisihkan untuk
kas kelompok, terutama untuk kebutuhan perbaikan alat dan pengadaan kostum.
Dalam situasi tertentu, kelompok bahkan rela menerima bayaran yang relatif
kecil demi menjaga keberlangsungan aktivitas sanggar. Logika yang bekerja di
sini bukan semata logika keuntungan, tetapi logika bertahan—bagaimana kelompok
tetap hidup meskipun ruang pertunjukan tidak selalu stabil.
Untuk wilayah dalam kota, tarif
pertunjukan berkisar sekitar Rp3.000.000 dengan tambahan kebutuhan transportasi
dan konsumsi, sedangkan untuk luar daerah dapat mencapai Rp4.000.000 hingga
Rp5.000.000. Akan tetapi, pemasukan tersebut belum sepenuhnya mampu menopang
kebutuhan kelompok karena sebagian besar alat musik mulai mengalami kerusakan,
khususnya pada instrumen reong dan gendang. Perbaikan dilakukan secara bertahap
karena biaya yang dibutuhkan cukup besar.
Persoalan regenerasi menjadi
tantangan lain yang cukup dirasakan oleh para pelaku. Menurut mereka,
popularitas musik modern dan berkembangnya kesenian seperti kecimol mulai
memengaruhi minat generasi muda terhadap Gendang Beleq. Di saat yang sama,
perubahan format pertunjukan juga menuntut kelompok untuk terus beradaptasi.
Jika sebelumnya Gendang Beleq identik dengan dua gendang utama, kini berkembang
menjadi enam hingga delapan gendang agar dianggap lebih sesuai dengan selera
pertunjukan masa kini. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi tidak
berada dalam ruang yang statis, melainkan terus menyesuaikan diri dengan
perubahan estetika dan sosial masyarakat.
Dalam konteks adaptasi tersebut,
kelompok ini mulai melakukan variasi pada pola tari maupun gending yang
dimainkan. Media sosial juga mulai dimanfaatkan sebagai sarana promosi dan
dokumentasi, meskipun penggunaannya masih bersifat personal melalui akun YouTube
anggota. Bahkan dalam beberapa situasi, kelompok rela menurunkan tarif
pertunjukan demi memperoleh ruang tampil yang dapat memperluas eksistensi
mereka di masyarakat.
Meskipun demikian, relasi Sanggar
Martasari Sokong dengan sektor pariwisata hingga kini masih sangat terbatas.
Kelompok ini belum pernah secara langsung terlibat dalam pertunjukan hotel
maupun kerja sama dengan industri wisata. Menurut para pelaku, salah satu
penyebab utamanya adalah minimnya jaringan atau relasi dengan pihak-pihak
pariwisata. Padahal, mereka meyakini bahwa sektor pariwisata dapat menjadi
ruang ekonomi baru bagi keberlanjutan Gendang Beleq di Lombok Utara.
Pandangan tersebut terlihat dari
harapan mereka agar Gendang Beleq memperoleh ruang yang lebih adil dalam agenda
pariwisata daerah. Para pelaku menilai bahwa selama ini pertunjukan budaya di
sektor wisata masih didominasi kelompok-kelompok tertentu, sementara sanggar
lain kesulitan memperoleh akses yang sama. Karena itu, keterlibatan dalam
pariwisata dipandang bukan sekadar peluang ekonomi, tetapi juga bentuk
pengakuan terhadap keberadaan kelompok seni di tingkat komunitas.
Di sisi kelembagaan, hubungan
kelompok dengan pemerintah masih berlangsung secara sporadis. Bantuan pernah
diberikan dalam bentuk dana sekitar Rp2.000.000 untuk kegiatan tertentu, tetapi
para pelaku merasa akses terhadap dukungan budaya masih cukup sulit. Proposal
yang diajukan sering kali tidak memperoleh kejelasan, sementara persyaratan
administrasi dianggap terlalu rumit bagi kelompok berbasis komunitas seperti
mereka. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya jarak antara kebijakan
kebudayaan dan realitas yang dihadapi kelompok seni tradisi di lapangan.
Hal yang paling dikhawatirkan para
pelaku sebenarnya bukan semata persoalan ekonomi, melainkan keberlanjutan
generasi penerus. Sebagian sesepuh dan pemain senior mulai bertambah usia,
sementara minat generasi muda terus mengalami perubahan. Karena itu, harapan
utama yang terus muncul adalah agar kelompok tetap kompak dan generasi muda
tetap mau melanjutkan tradisi yang telah diwariskan sebelumnya.
Pada akhirnya, Sanggar Martasari
Sokong memperlihatkan bahwa keberlangsungan Gendang Beleq tidak selalu
bergantung pada dukungan besar atau infrastruktur formal. Ia sering kali
bertahan melalui solidaritas komunitas, latihan yang terus dilakukan, serta kesediaan
para pelaku untuk menjaga bunyi tetap hidup di tengah keterbatasan. Dalam ruang
sederhana seperti Dusun Getak Gali, tradisi terus dinegosiasikan—antara warisan
masa lalu, tuntutan modernitas, dan harapan agar generasi berikutnya masih mau
mendengar serta memainkan irama yang sama.

0 Komentar