Di Lombok Utara, bunyi Gendang Beleq bukan sekadar suara yang mengiringi arak-arakan. Ia adalah denyut yang pernah begitu dekat dengan kehidupan—hadir dalam perayaan, dalam kebersamaan, dalam momen-momen penting yang menyatukan orang-orang dalam satu irama. Namun hari ini, di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat, ada kegelisahan yang tidak bisa diabaikan. Tidak semua anak muda lagi mengenal Gendang Beleq sebagai bagian dari dirinya. Beberapa sanggar masih bertahan dengan penuh semangat, tetapi juga menghadapi tantangan: regenerasi yang tidak selalu berjalan mulus, keterbatasan ruang latihan, hingga perubahan cara masyarakat memaknai tradisi.

Dari kegelisahan itulah website ini lahir. Kami memulai langkah ini dengan satu kesadaran sederhana: bahwa Gendang Beleq tidak cukup hanya dilestarikan sebagai pertunjukan, tetapi perlu dipahami, didokumentasikan, dan dihadirkan kembali dalam cara yang relevan dengan kehidupan hari ini. Setiap sanggar, setiap pemain, setiap bunyi yang dihasilkan—semuanya menyimpan cerita yang layak untuk didengar dan dirawat.

Website ini berupaya mendekati Gendang Beleq bukan sebagai objek, tetapi sebagai praktik hidup. Kami mengunjungi sanggar-sanggar, berbincang dengan para pelaku, menyaksikan proses latihan, dan merekam dinamika yang sering kali tidak terlihat di atas panggung. Dari sana, kami belajar bahwa di balik setiap tabuhan, ada kerja kolektif, ada semangat berbagi, dan ada harapan agar tradisi ini tetap memiliki tempat di masa depan.

Tujuannya sederhana: menghadirkan ruang bersama untuk mengenal, memahami, dan merawat Gendang Beleq. Melalui dokumentasi, pemetaan, dan cerita-cerita dari para pelaku, kami ingin membuka akses yang lebih luas—agar siapa pun bisa melihat bahwa tradisi ini masih hidup, masih bergerak, dan masih terus menemukan bentuknya.

Kami percaya, menjaga budaya tidak selalu berarti mengembalikannya ke masa lalu, tetapi memberi ruang agar ia bisa terus tumbuh di masa kini. Dan dari sana, mungkin, bunyi Gendang Beleq tidak hanya akan terus terdengar—tetapi juga terus dimaknai.