Di Karang Tunggul, Desa Anyar, Kecamatan Bayan,
suara Gendang Beleq masih menjadi bagian penting dari kehidupan sosial
masyarakat. Di tengah perubahan zaman dan berkembangnya berbagai bentuk hiburan
modern, Gendang Beleq Bajang Girang Tunggul tetap hadir sebagai ruang
tempat tradisi dipertahankan melalui semangat kebersamaan komunitas. Dipimpin
oleh Lalu Kertajaya (31 tahun), kelompok ini tumbuh tidak hanya sebagai
kelompok pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang sosial tempat generasi muda belajar
menjaga hubungan dengan tradisi dan lingkungan budaya mereka sendiri.
Berbeda dengan sebagian besar
wilayah Sasak lainnya, praktik Gendang Beleq di Bayan memiliki konteks
sosial yang cukup khas. Jika di banyak daerah Gendang Beleq identik
dengan prosesi nyongkolan, maka di Bayan pertunjukan ini justru lebih sering
hadir dalam kegiatan nyunatan serta berbagai aktivitas adat masyarakat.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi Gendang Beleq di Lombok
berkembang mengikuti konteks sosial budaya masing-masing wilayah. Dalam
masyarakat Bayan, Gendang Beleq tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi
juga bagian dari suasana ritual dan penanda penting dalam berbagai momentum
sosial masyarakat.
Pada musim ramai, kelompok ini
dapat tampil sekitar lima hingga enam kali dalam sebulan. Aktivitas pertunjukan
biasanya meningkat ketika masyarakat memasuki periode pelaksanaan kegiatan adat
secara bersamaan. Dalam situasi seperti itu, seluruh anggota harus menjaga
kesiapan alat, latihan, dan koordinasi agar kelompok tetap dapat memenuhi
kebutuhan masyarakat. Di balik setiap pertunjukan, terdapat proses kolektif
yang melibatkan latihan, pengaturan pemain, hingga pengelolaan perlengkapan dan
transportasi. Karena itu, keberlangsungan kelompok tidak hanya ditentukan oleh
kemampuan musikal, tetapi juga oleh kuatnya solidaritas antaranggota.
Semangat kebersamaan tersebut sudah
terlihat sejak masa awal pembentukan kelompok. Perangkat alat musik yang
dimiliki saat ini diperoleh melalui sistem patungan anggota. Pada awal berdiri,
setiap anggota menyumbang sekitar Rp500.000 untuk pengadaan instrumen dan
kebutuhan dasar kelompok. Bagi masyarakat setempat, proses tersebut bukan
semata persoalan membeli alat, tetapi juga bentuk rasa memiliki terhadap
tradisi yang mereka bangun bersama. Hingga hari ini, pola gotong royong
tersebut masih menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan kelompok.
Pada tahun 2024, kelompok ini
memperoleh dukungan dari Dinas Sosial sebagai bentuk perhatian terhadap
komunitas seni tradisi di tingkat lokal. Namun demikian, para pelaku menyadari
bahwa keberlangsungan tradisi tidak dapat hanya bergantung pada bantuan eksternal.
Karena itu, pengelolaan kelompok dilakukan secara mandiri melalui sistem kas
dan iuran anggota yang digunakan untuk kebutuhan perawatan alat, transportasi,
dan keberlangsungan aktivitas kelompok.
Secara organisasi, Gendang Beleq
Bajang Girang Karang Tunggul memiliki sekitar 111 anggota dengan sekitar 40 anggota
aktif yang rutin terlibat dalam kegiatan kelompok. Dalam satu kali pertunjukan,
jumlah pemain yang tampil biasanya mencapai sekitar 30 orang. Anggota kelompok
didominasi oleh kalangan pelajar SMP hingga SMA, sementara sebagian lainnya
sudah berstatus mahasiswa. Regenerasi terlihat berjalan cukup baik karena
banyak anggota muda telah mampu memainkan instrumen secara fasih meskipun masih
berada pada usia sekolah. Di sisi lain, keberadaan pemain senior seperti pemain
terompong yang telah berusia sekitar 45 tahun menjadi bagian penting dalam
proses transfer pengetahuan musikal antar generasi.
Dalam proses latihan, pembelajaran
berlangsung secara langsung melalui pengalaman bermain bersama. Pemain muda
belajar memahami pola tabuhan, tempo, dan dinamika permainan dengan cara
mendengar dan mengikuti pemain yang lebih senior. Pola belajar seperti ini
membuat pengetahuan musikal tidak hanya dipahami sebagai teknik bermain, tetapi
juga sebagai pengalaman kolektif yang dibangun melalui kebersamaan dan
keterlibatan terus-menerus dalam latihan maupun pertunjukan.
Dalam praktik musikalnya, kelompok
ini memainkan berbagai repertoar gending Sasak dan Bebalian. Beberapa gending
yang sering dimainkan antara lain Semarandana, Manuk Rawu, Kidung Dalem,
Kasmaran, Gotong Royong, Bagek Kaet, Rangsangan, Telek, Melasti, Lalo Nyongkol,
Ning Tenang, dan Cilinaya. Secara umum, repertoar tersebut juga dimainkan oleh
kelompok-kelompok lain di wilayah Bayan. Namun perbedaan biasanya terletak pada
pola tabuhan dan pengembangan rasa musikal masing-masing kelompok. Dalam
konteks tersebut, identitas musikal dibangun melalui karakter permainan yang
berkembang di dalam komunitas, bukan sekadar melalui pilihan gending yang
dimainkan.
Dalam konteks ekonomi pertunjukan,
kelompok ini menetapkan tarif sekitar Rp2.000.000 hingga Rp3.000.000 untuk
wilayah Bayan dan sekitarnya. Sementara untuk pertunjukan di luar daerah, tarif
dapat mencapai Rp5.000.000 hingga Rp6.000.000. Pendapatan dari pertunjukan
biasanya digunakan untuk kebutuhan transportasi, pengadaan alat, dan perawatan
instrumen. Sebagian hasil pertunjukan dibagikan kepada anggota, sementara
sebagian lainnya dimasukkan ke dalam kas kelompok sebagai dana cadangan. Dana
tersebut menjadi sumber utama pembiayaan apabila terjadi kerusakan alat atau
kebutuhan mendesak lainnya.
Selain itu, kelompok ini juga
memiliki sistem iuran yang cukup terorganisasi. Anggota aktif dikenakan iuran
sekitar Rp300.000, sedangkan anggota yang kurang aktif dikenakan sekitar
Rp1.000.000. Terdapat pula kontribusi keluarga anggota sekitar Rp600.000 sebagai
bentuk dukungan terhadap aktivitas kelompok. Sistem tersebut memperlihatkan
bahwa keberadaan Gendang Beleq Bajang Girang Tunggul tidak hanya
ditopang oleh para pemain, tetapi juga oleh keterlibatan keluarga dan
masyarakat sekitar.
Di tengah perubahan sosial dan
berkembangnya berbagai bentuk hiburan modern, Gendang Beleq Bajang
Girang Karang Tunggul memperlihatkan bahwa tradisi tetap dapat bertahan ketika
masyarakat masih memiliki rasa memiliki terhadap kesenian mereka sendiri.
Melalui gotong royong, keterlibatan lintas generasi, dan semangat kolektif
komunitas, kelompok ini tidak hanya menjaga praktik musikal Gendang Beleq,
tetapi juga merawat hubungan sosial dan identitas budaya masyarakat Bayan yang
terus hidup hingga hari ini.

0 Komentar