Di kawasan Tebango, Desa Pemenang Timur, suara Gendang Beleq masih terus hidup melalui aktivitas Sanggar Jelimanjaya. Beralamat di Jalan Jeliman Ireng, sanggar ini tumbuh dari semangat kebersamaan masyarakat yang ingin menghadirkan ruang berkesenian di lingkungan mereka sendiri. Bagi para anggotanya, sanggar bukan sekadar tempat latihan musik tradisi, tetapi juga ruang berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga hubungan sosial di tengah kesibukan hidup sehari-hari.

Sanggar Jelimanjaya berdiri pada tahun 2013 dan pada masa awal dipimpin oleh Satriadi (50 tahun). Pembentukan kelompok ini berlangsung secara kolektif melalui keterlibatan masyarakat setempat yang memiliki minat terhadap Gendang Beleq. Saat ini sanggar dipimpin oleh Suyendra (30 tahun), sementara informasi mengenai perjalanan kelompok disampaikan oleh Meta Wadi (46 tahun), salah satu pelaku yang cukup lama mengikuti perkembangan sanggar tersebut. Sejak awal berdiri, kelompok ini tidak dibangun sebagai institusi seni yang formal, melainkan sebagai komunitas yang tumbuh dari kebutuhan sosial masyarakat untuk tetap memiliki ruang ekspresi budaya di lingkungan mereka.

Dalam praktiknya, Gendang Beleq Sanggar Jelimanjaya digunakan untuk berbagai kebutuhan sosial masyarakat, terutama dalam prosesi nyongkolan, festival tahunan, dan kegiatan keagamaan. Kehadiran mereka dalam berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Gendang Beleq masih memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Sasak, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari suasana sosial dan budaya yang menyertai berbagai peristiwa komunal.

Secara organisasi, kelompok ini memiliki sekitar 40 anggota sekaha dengan mayoritas anggota berasal dari kalangan remaja hingga dewasa muda, berkisar antara usia 14 hingga 40 tahun. Komposisi tersebut membuat suasana kelompok terasa cukup dinamis. Namun di sisi lain, sebagian besar anggota juga merupakan pekerja yang memiliki aktivitas dan tanggung jawab masing-masing. Karena itu, setiap rencana pementasan membutuhkan komunikasi dan persiapan yang cukup matang agar seluruh anggota dapat terlibat secara bersama-sama. Dalam kondisi tertentu, latihan maupun pertunjukan harus menyesuaikan dengan waktu luang anggota yang berbeda-beda.

Menariknya, proses pembelajaran musikal dalam kelompok ini berkembang secara cukup mandiri. Para anggota banyak belajar secara otodidak dengan memanfaatkan media digital, terutama melalui tayangan pertunjukan Gendang Beleq di YouTube. Fenomena tersebut memperlihatkan perubahan cara belajar dalam seni tradisi. Jika dahulu pengetahuan musikal lebih banyak diwariskan melalui hubungan langsung antara guru dan murid, kelompok ini justru tumbuh melalui proses belajar kolektif yang memanfaatkan teknologi digital. Meski demikian, inti pembelajarannya tetap terletak pada pengalaman bermain bersama—belajar menjaga tempo, mendengar permainan satu sama lain, dan membangun kekompakan dalam pertunjukan.

Bagi sebagian besar anggota, Gendang Beleq belum diposisikan sebagai sumber penghasilan utama. Seni lebih dipahami sebagai hobi, ruang berproses kreatif, sekaligus sarana berkumpul di tengah rutinitas pekerjaan sehari-hari. Dalam konteks tersebut, keberadaan sanggar memiliki fungsi sosial yang cukup kuat, terutama sebagai ruang interaksi generasi muda agar tetap terhubung dengan lingkungan komunitas dan tradisi lokal mereka.

Dalam konteks ekonomi pertunjukan, Sanggar Jelimanjaya menetapkan tarif sekitar Rp2.500.000 untuk wilayah dalam kota, sedangkan untuk pementasan di luar wilayah berkisar sekitar Rp3.500.000 di luar biaya transportasi. Namun demikian, pendapatan dari pertunjukan belum cukup untuk menjadikan aktivitas seni sebagai profesi utama. Aktivitas berkesenian masih berjalan berdampingan dengan pekerjaan lain yang menjadi sumber penghidupan utama para anggota kelompok.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, terdapat pandangan kritis dari para pelaku seni mengenai arah pembangunan kebudayaan di daerah. Menurut narasumber, perhatian pemerintah daerah selama ini masih lebih banyak berfokus pada penyelenggaraan festival tahunan. Padahal, potensi seni tradisi seperti Gendang Beleq dinilai memiliki peluang yang jauh lebih besar apabila diintegrasikan secara serius dengan sektor pariwisata. Hingga saat ini, seni dan kebudayaan lokal dianggap belum tergarap secara maksimal sebagai bagian penting dari identitas pariwisata daerah.

Dalam konteks itu, Sanggar Jelimanjaya memperlihatkan bahwa keberlangsungan Gendang Beleq tidak selalu bergantung pada kelompok besar atau sistem yang mapan. Tradisi justru sering kali bertahan melalui ruang-ruang kecil yang dibangun dari semangat kebersamaan masyarakat. Melalui latihan sederhana, proses belajar mandiri, dan keinginan untuk tetap menjaga hubungan dengan tradisi, kelompok ini menjadi penanda bahwa Gendang Beleq masih terus menemukan tempatnya di tengah perubahan kehidupan masyarakat Lombok Utara.