Di Dusun Montong, Desa Samaguna, keberadaan Sanggar Gema Persada tidak sekadar menandai hadirnya sebuah kelompok seni Gendang Beleq, melainkan menjadi bagian dari lanskap sosial yang lebih luas—tempat di mana bunyi, relasi, dan ingatan kolektif saling berkelindan. Gendang Beleq di sini tidak hanya dimainkan dalam konteks pertunjukan, tetapi hidup sebagai praktik sosial yang menghubungkan individu dengan komunitasnya, sekaligus menjadi medium ekspresi identitas yang terus dinegosiasikan.
Sejarah sanggar ini berakar pada
inisiatif masyarakat pada tahun 1966, ketika seperangkat alat Gendang Beleq
dibeli dari Masbagik, Lombok Timur. Peristiwa tersebut bukan hanya tindakan
material, melainkan juga simbol awal dari pembentukan ruang kolektif berbasis
seni. Di bawah kepemimpinan awal Siradi, kelompok ini mulai membangun fondasi
sosialnya, menjadikan Gendang Beleq sebagai bagian dari kehidupan komunal yang
berkelanjutan. Dalam konteks ini, Sanggar Gema Persada dapat dibaca sebagai
hasil dari kehendak kolektif masyarakat untuk menghadirkan dan mempertahankan
ruang budaya mereka sendiri.
Namun, perjalanan panjang tersebut
tidak berlangsung secara linear. Periode vakum antara tahun 2007 hingga 2019
menjadi fase yang memperlihatkan rapuhnya keberlanjutan kelompok seni berbasis
komunitas. Ketika anggota diserap oleh tuntutan ekonomi dan aktivitas lain di
luar seni, praktik Gendang Beleq pun mengalami jeda. Vakum ini bukan sekadar
berhentinya aktivitas, tetapi juga menunjukkan bahwa keberlangsungan tradisi
sangat bergantung pada negosiasi antara seni dan kehidupan sehari-hari.
Pasca fase tersebut, sanggar
kembali dihidupkan dengan kepemimpinan baru di bawah Ahyar Ali (31 tahun),
dengan dukungan anggota seperti Hisbandi (30 tahun). Saat ini, Sanggar Gema
Persada memiliki sekitar 57 anggota aktif dengan rentang usia 19 hingga 40
tahun. Komposisi ini menunjukkan adanya potensi regenerasi yang cukup kuat,
meskipun prosesnya tetap berlangsung secara organik, melalui keterlibatan
langsung dalam praktik, bukan melalui sistem pembelajaran formal.
Dalam hal aktivitas pertunjukan,
sanggar ini pernah mengalami fase produktif dengan frekuensi tampil mencapai 8
hingga 12 kali dalam sebulan. Namun, kondisi tersebut kini berubah. Intensitas
pementasan menurun menjadi sekitar 2 hingga 3 kali per bulan. Penurunan ini,
sebagaimana diakui oleh para pelaku, bukan semata-mata akibat melemahnya
permintaan, melainkan karena meningkatnya jumlah kelompok Gendang Beleq di
Kabupaten Lombok Utara. Dengan kata lain, tradisi yang dulu terpusat kini
menyebar, menciptakan ekosistem yang lebih kompetitif sekaligus lebih dinamis.
Dalam perspektif yang lebih luas,
kondisi ini memperlihatkan bahwa Gendang Beleq tidak mengalami kemunduran,
melainkan mengalami redistribusi. Ruang tampil tidak lagi dimonopoli oleh satu
atau dua kelompok, tetapi terbagi dalam jaringan yang lebih luas. Hal ini
menuntut setiap sanggar untuk tidak hanya mengandalkan tradisi, tetapi juga
mengembangkan strategi adaptasi—baik dalam kualitas pertunjukan, jaringan
sosial, maupun cara memposisikan diri di tengah kompetisi.
Dari sisi ekonomi, Sanggar Gema
Persada menunjukkan pola pengelolaan yang cukup khas. Tarif pementasan
ditentukan berdasarkan jarak dan kedekatan sosial: sekitar Rp2.000.000 untuk
wilayah dalam kecamatan dan Rp4.000.000 untuk luar kota, di luar biaya transportasi.
Untuk lingkaran sosial internal, tarif menjadi lebih fleksibel, bahkan bisa
turun hingga Rp500.000–Rp700.000 untuk keluarga dekat anggota. Skema ini
memperlihatkan bahwa logika ekonomi tidak berdiri sendiri, melainkan selalu
dinegosiasikan dengan nilai-nilai sosial yang hidup dalam komunitas.
Lebih menarik lagi, hasil
pementasan tidak dibagikan kepada individu, melainkan dikumpulkan sebagai kas
sanggar. Dana ini digunakan untuk perawatan alat dan pengembangan kelompok.
Dalam konteks ini, Sanggar Gema Persada menegaskan dirinya sebagai entitas
kolektif, di mana keberlanjutan bersama lebih diutamakan dibandingkan
keuntungan personal. Model ini sekaligus memperlihatkan bagaimana praktik seni
tradisional masih mempertahankan etos komunal di tengah logika ekonomi modern.
Di sisi lain, adaptasi terhadap
perkembangan zaman juga mulai terlihat melalui pemanfaatan media sosial seperti
TikTok dan Facebook. Promosi tidak lagi bergantung pada jaringan tradisional,
tetapi mulai bergerak ke ruang digital, sering kali melalui akun pribadi
anggota. Transformasi ini menandai pergeseran cara sanggar membangun
visibilitas—dari yang berbasis relasi lokal menuju eksposur yang lebih luas dan
terbuka.
Namun demikian, di balik berbagai
upaya adaptasi tersebut, tantangan internal tetap menjadi isu penting. Salah
satu persoalan utama adalah manajemen anggota, khususnya dalam menjaga
kedisiplinan. Dengan jumlah anggota yang cukup besar, pengelolaan menjadi
semakin kompleks, dan memerlukan sistem yang lebih terstruktur tanpa
menghilangkan fleksibilitas yang menjadi ciri khas kelompok berbasis komunitas.
Dalam relasinya dengan sektor yang
lebih luas, Sanggar Gema Persada hingga kini belum terintegrasi secara langsung
dalam industri pariwisata. Padahal, potensi tersebut terbuka lebar, mengingat
Gendang Beleq telah menjadi salah satu ikon budaya Lombok. Para anggota
menyadari hal ini dan menyatakan harapan agar sanggar dapat dilibatkan dalam
pembangunan pariwisata daerah. Harapan ini bukan sekadar keinginan untuk tampil
lebih sering, tetapi juga untuk mendapatkan ruang yang lebih strategis dalam
ekosistem ekonomi budaya.
Lebih jauh, muncul pula gagasan
tentang pentingnya pembentukan forum sanggar Gendang Beleq di Kabupaten Lombok
Utara. Forum ini diharapkan dapat menjadi ruang koordinasi, pertukaran
pengetahuan, sekaligus penguatan solidaritas antarkelompok. Dalam konteks ini,
kebutuhan akan forum bukan hanya bersifat administratif, tetapi juga
kultural—sebagai upaya membangun kesadaran bersama bahwa keberlanjutan tradisi
adalah tanggung jawab kolektif.
Pada akhirnya, Sanggar Gema Persada
memperlihatkan bahwa keberlangsungan tradisi tidak hanya ditentukan oleh
kemampuan menjaga bentuk, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi terhadap
perubahan. Di tengah kompetisi yang meningkat, dinamika sosial yang berubah,
dan tuntutan modernitas, sanggar ini terus berupaya menjaga keseimbangan antara
kolektivitas, ekonomi, dan identitas budaya.
Dan seperti banyak kelompok seni
tradisional lainnya, kekuatan utama mereka tidak selalu terletak pada skala
atau intensitas pertunjukan, melainkan pada ketahanan komunitasnya—pada
kesediaan untuk terus berkumpul, berlatih, dan memainkan bunyi yang sama, dari
satu generasi ke generasi berikutnya. Selama praktik itu terus berlangsung,
selama itu pula Gendang Beleq tidak sekadar menjadi warisan, tetapi tetap hidup
sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.

0 Komentar