Di Dusun Kroya, Desa Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, Sanggar Gemuruh Sasak Kroya hadir sebagai inisiatif kultural yang lahir dari kebutuhan sosial yang sangat konkret. Berdiri pada awal tahun 2025, sanggar ini merupakan kelompok yang relatif baru, namun keberadaannya segera menemukan relevansi di tengah masyarakat. Dipimpin oleh Iwan Setiawan (34), yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun Kroya, sanggar ini tidak hanya dibangun sebagai kelompok seni, tetapi sebagai ruang sosial yang dirancang untuk menjawab persoalan komunitas—terutama yang berkaitan dengan generasi muda.

Sebagai sanggar binaan dari Gendang Beleq Putri Dewi Anjani dengan menempatkan Candrawadi sebagai pelatih utama, Gemuruh Sasak Kroya menunjukkan bahwa praktik budaya tidak berkembang secara terputus, melainkan melalui relasi antarkomunitas yang saling menguatkan. Transfer pengetahuan, pola latihan, hingga cara memahami fungsi Gendang Beleq sebagai bagian dari kehidupan sosial, menjadi proses yang berlangsung secara bertahap. Dalam konteks ini, sanggar tidak hanya mewarisi bentuk musikal, tetapi juga cara berpikir dan cara memaknai tradisi.

        Tujuan pembentukan sanggar ini memperlihatkan orientasi yang jelas pada dimensi sosial. Pertama, ia dimaksudkan sebagai ruang kreasi bagi masyarakat, terutama remaja, sekaligus sebagai upaya untuk meminimalisir dampak negatif pergaulan. Dalam keseharian, sanggar menjadi tempat berkumpul yang produktif—di mana waktu luang tidak dihabiskan tanpa arah, tetapi diisi dengan aktivitas yang membangun keterampilan dan kebersamaan. Kedua, sanggar ini hadir untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan adat, khususnya nyongkolan, dengan menyediakan layanan Gendang Beleq yang terjangkau. Orientasi ini menunjukkan bahwa sejak awal, kelompok belum menempatkan dirinya sebagai entitas ekonomi, melainkan sebagai bagian dari pelayanan sosial berbasis budaya. Selain itu, sanggar juga menjadi ruang ekspresi dan penyaluran hobi, sekaligus memperkuat kohesi sosial melalui aktivitas bersama.

Dalam praktiknya, latihan dilaksanakan dua hingga tiga kali dalam sepekan. Pola latihan ini menunjukkan adanya komitmen awal yang cukup kuat, meskipun masih berada dalam fase pembentukan. Proses belajar sepenuhnya mengandalkan tradisi lisan—melalui melihat, mendengar, meniru, dan mempraktikkan secara langsung. Dalam banyak hal, pendekatan ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan musikal dalam Gendang Beleq tidak dipisahkan dari pengalaman tubuh. Namun, pada fase awal seperti ini, metode tersebut juga menghadirkan tantangan, terutama ketika anggota harus menghafal gending atau memahami struktur permainan instrumen yang lebih kompleks seperti reong dan suling.

Sebagai kelompok yang baru berkembang, sanggar ini saat ini memiliki dua set perangkat Gendang Beleq yang diperoleh melalui dukungan pemerintah daerah. Keberadaan dukungan ini menunjukkan adanya perhatian awal terhadap perkembangan seni tradisi di tingkat komunitas. Namun, keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan alat, melainkan juga oleh kemampuan komunitas dalam merawat dan mengelolanya. Dalam hal ini, anggota sanggar secara kolektif melakukan iuran untuk pemeliharaan alat sekaligus membangun kas internal, sebuah langkah awal yang memperlihatkan tumbuhnya kesadaran tanggung jawab bersama.

Dalam aspek artistik, Gemuruh Sasak Kroya saat ini baru menguasai dua gending. Keterbatasan ini mencerminkan fase pembelajaran yang masih berlangsung, di mana penguasaan repertoar tidak hanya bergantung pada hafalan, tetapi juga pada kemampuan membangun keselarasan antar pemain. Setiap latihan menjadi proses membentuk rasa kolektif—belajar mendengar satu sama lain, menyesuaikan tempo, dan menjaga kebersamaan dalam permainan.

Menariknya, di tengah proses yang masih berkembang, sanggar tetap menjaga dimensi simbolik dalam praktiknya. Sebelum pertunjukan tertentu, dilakukan ritual sederhana berupa pembuatan Lekesan—daun pisang berbentuk kerucut yang diisi dengan pinang, tembakau, sirih, dan kapur—yang digunakan dalam upacara khusus pada instrumen gong. Praktik ini menunjukkan bahwa bahkan dalam kelompok yang relatif baru, kesadaran terhadap aspek nilai dan makna dalam Gendang Beleq tetap dijaga. Tradisi tidak hanya dipelajari sebagai teknik, tetapi juga sebagai sistem yang memiliki dimensi kultural dan spiritual.

Dalam hal performativitas, hingga saat ini Gendang Beleq Gemuruh Sasak Kroya telah tampil sebanyak empat kali. Pementasan pertama dilakukan sekitar akhir tahun 2025, menjadi momen penting yang menandai peralihan dari proses belajar menuju praktik nyata di ruang sosial. Bagi anggota, pengalaman tampil bukan hanya soal keberhasilan memainkan gending, tetapi juga tentang menghadapi publik, membangun kepercayaan diri, dan merasakan langsung fungsi sosial dari seni yang mereka pelajari. Setiap pementasan menjadi ruang pembelajaran yang tidak tergantikan, sekaligus penanda bahwa sanggar mulai menemukan posisinya dalam kehidupan masyarakat.

Dari sisi ekonomi, tarif tanggapan yang ditetapkan berkisar antara Rp2.000.000 hingga Rp2.500.000. Namun, sebagaimana orientasi awal pembentukannya, aspek ekonomi belum menjadi prioritas utama. Sanggar lebih menempatkan dirinya sebagai bagian dari pelayanan sosial, sehingga nilai ekonomi masih berada dalam kerangka yang terbatas dan fleksibel.

Dalam upaya membangun identitas, sanggar mulai melakukan langkah sederhana seperti pembuatan kaos komunitas sebagai bentuk promosi. Upaya ini menunjukkan adanya kesadaran awal akan pentingnya visibilitas, meskipun masih dalam skala terbatas. Di sisi lain, berbagai tantangan masih dihadapi, mulai dari kedisiplinan anggota saat latihan, kesulitan dalam menghafal gending, penguasaan instrumen tertentu seperti reong dan suling, hingga kebutuhan perawatan alat yang berkelanjutan. Tantangan-tantangan ini bukan sekadar hambatan, tetapi bagian dari proses pembentukan yang harus dilalui oleh setiap komunitas budaya yang sedang tumbuh.

Dalam pandangan pelaku, salah satu harapan ke depan adalah adanya kebijakan yang mampu mengintegrasikan seni tradisi dengan sektor pariwisata. Keinginan agar Gendang Beleq dapat tampil di titik-titik wisata unggulan menunjukkan bahwa komunitas tidak hanya ingin bertahan, tetapi juga berkembang dan terhubung dengan ruang yang lebih luas. Namun, harapan ini tetap berpijak pada kesadaran bahwa penguatan internal merupakan fondasi utama.

Realitas mengenai Sanggar Gemuruh Sasak Kroya dapat dipahami sebagai ruang tumbuh bagi tradisi. Ia bukan hanya tempat belajar memainkan gendang, tetapi juga ruang di mana kebersamaan dibangun, nilai-nilai diwariskan, dan identitas perlahan dibentuk. Dalam konteks yang lebih luas, keberadaannya menunjukkan bahwa masa depan Gendang Beleq tidak hanya bergantung pada kelompok-kelompok yang telah mapan, tetapi juga pada inisiatif-inisiatif baru yang lahir dari kebutuhan komunitas. Di titik inilah tradisi menemukan energi barunya—melalui generasi yang sedang belajar menjadikannya bagian dari hidup mereka.