Di Dusun Rendang Dila, Desa Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, Gendang Beleq tidak sekadar hadir sebagai ekspresi musikal, melainkan sebagai struktur sosial yang mengikat ingatan, identitas, dan praktik kolektif masyarakat. Ia tidak hanya berbunyi dalam ruang pertunjukan, tetapi juga beresonansi dalam kehidupan sehari-hari, menjadi bagian dari cara komunitas memahami dirinya sendiri. Dalam konteks ini, Gendang Beleq Eka Marga Budaya tampil sebagai salah satu simpul penting yang memperlihatkan bagaimana tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dinegosiasikan secara terus-menerus dalam menghadapi perubahan zaman.

Dipimpin oleh Artodi, kelompok ini terdiri dari 44 anggota yang mencakup remaja hingga dewasa. Komposisi ini bukan sekadar angka, melainkan representasi dari keberlangsungan sosial yang memungkinkan tradisi tetap hidup lintas generasi. Namun, regenerasi yang terjadi tidak dibangun melalui sistem formal atau kurikulum terstruktur, melainkan melalui relasi keseharian—melalui keterlibatan langsung, pengamatan, dan pengalaman kolektif. Di sini, belajar bukanlah proses yang terpisah dari praktik, melainkan bagian inheren dari praktik itu sendiri. Tradisi tidak diajarkan, tetapi dijalani.

Kesinambungan ini diperkuat oleh ingatan para pelaku. Nursaman (70), salah satu narasumber kunci, mengingat bahwa ketika dirinya berusia sekitar sepuluh tahun, kelompok ini telah ada, bahkan orang tuanya sudah menjadi bagian darinya. Kesaksian ini menempatkan Gendang Beleq Eka Marga Budaya setidaknya pada awal 1960-an, bahkan sebelum peristiwa 1965. Dengan demikian, kelompok ini tidak hanya memiliki usia yang panjang, tetapi juga telah melewati berbagai fase sosial-politik yang kompleks tanpa kehilangan eksistensinya. Dalam perspektif ini, kelompok ini dapat dipahami sebagai arsip hidup—yang menyimpan bukan hanya komposisi musikal, tetapi juga jejak sejarah komunitas.

Namun, keberlanjutan tersebut tidak berlangsung dalam ruang yang statis. Dinamika sosial yang berubah turut membentuk ulang posisi kelompok ini dalam ekosistem seni lokal. Jika pada masa sebelumnya mereka dapat tampil hingga tiga hingga empat kali dalam sepekan, kini frekuensi tersebut menurun menjadi dua hingga tiga kali dalam sebulan. Menurut para pelaku, salah satu faktor utama adalah munculnya banyak kelompok baru yang turut meramaikan lanskap Gendang Beleq. Di satu sisi, fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi masih hidup dan berkembang; namun di sisi lain, ia juga menciptakan kompetisi yang memengaruhi distribusi kesempatan tampil.

Dalam konteks ini, penurunan intensitas tidak semata-mata dapat dibaca sebagai kemunduran, tetapi sebagai bagian dari reorganisasi ekosistem budaya. Tradisi tidak lagi dimonopoli oleh sedikit kelompok, melainkan tersebar dalam jaringan yang lebih luas. Hal ini menuntut setiap kelompok, termasuk Eka Marga Budaya, untuk menyesuaikan diri—baik dalam hal kualitas pertunjukan, jaringan sosial, maupun strategi bertahan.

Dari sisi ekonomi, kelompok ini telah mengembangkan struktur tarif yang relatif adaptif terhadap konteks ruang. Untuk wilayah dusun, tarif yang ditetapkan sekitar Rp1.500.000, sementara untuk wilayah di luar dusun berkisar antara Rp2.000.000 hingga Rp3.000.000. Untuk kebutuhan di luar kota, tarif dapat mencapai Rp5.000.000 hingga Rp6.000.000 dengan mempertimbangkan biaya transportasi. Skema ini menunjukkan adanya rasionalitas ekonomi yang cukup matang, di mana nilai pertunjukan dihitung secara kontekstual. Namun demikian, orientasi kelompok ini tidak sepenuhnya didorong oleh logika ekonomi. Dalam banyak kasus, Gendang Beleq tetap diposisikan sebagai bagian dari kebutuhan sosial masyarakat, terutama dalam ritual adat seperti nyongkolan dan kegiatan keagamaan.

Dalam praktiknya, keterlibatan anggota bersifat fleksibel dan kontekstual. Untuk kegiatan ritual, seluruh anggota dilibatkan sebagai bentuk representasi kolektivitas. Sementara itu, dalam konteks pertunjukan tertentu, seperti pariwisata, jumlah pemain disesuaikan menjadi sekitar 20 hingga 25 orang. Penyesuaian ini menunjukkan adanya kesadaran akan kebutuhan efisiensi sekaligus adaptasi terhadap tuntutan panggung modern.

Pengalaman kelompok ini dalam ranah pariwisata menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan mereka. Pada periode sekitar tahun 2007 hingga 2014, Gendang Beleq Eka Marga Budaya cukup aktif terlibat dalam pertunjukan di hotel-hotel kawasan Gili. Dalam fase ini, terjadi transformasi yang signifikan, baik dari segi intensitas pertunjukan maupun nilai ekonomi. Tarif yang awalnya berkisar sekitar Rp50.000 berkembang hingga mencapai Rp250.000, bahkan hingga Rp3.000.000. Perubahan ini tidak hanya mencerminkan peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga menunjukkan bagaimana Gendang Beleq mengalami proses re-kontekstualisasi dalam ruang pariwisata.

Namun, keterlibatan dalam industri pariwisata juga membawa implikasi tertentu. Pertunjukan tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai bagian dari ritual, tetapi juga sebagai tontonan yang harus memenuhi ekspektasi audiens yang beragam. Hal ini menuntut penyesuaian dalam struktur pertunjukan, durasi, dan bahkan ekspresi musikal. Meskipun demikian, kelompok ini tetap berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan adaptasi dan upaya mempertahankan esensi tradisi.

Di sisi internal, sistem latihan kelompok bersifat temporer dan berbasis kesepakatan. Latihan biasanya dilakukan pada malam Sabtu atau hari Minggu, menyesuaikan dengan ketersediaan waktu anggota yang sebagian besar memiliki aktivitas utama di luar seni. Model ini mencerminkan fleksibilitas, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa praktik seni masih berada dalam posisi yang harus bernegosiasi dengan tuntutan kehidupan sehari-hari.

Proses pembelajaran dalam kelompok ini sepenuhnya mengandalkan tradisi lisan. Pengetahuan musikal ditransmisikan melalui praktik langsung, pengulangan, dan pengamatan. Tidak ada notasi tertulis atau sistem dokumentasi formal. Di satu sisi, hal ini menjaga karakter organik dan otentisitas tradisi; namun di sisi lain, ia juga menyimpan risiko hilangnya detail-detail tertentu seiring dengan berkurangnya generasi yang menguasainya.

Secara musikal, kekayaan kelompok ini tercermin dalam repertoar yang mereka miliki. Gending-gending kuno seperti Rangsangan, Copek, Kuda, dan Inaq Delik menjadi penanda kesinambungan historis, sementara gending-gending baru seperti Jurit, Pejalanan, Patih, Lalo Nyongkol, Ujan Mas, Reres Daun, Turun Tangis, dan Pejarakan menunjukkan adanya dinamika kreatif yang terus berkembang. Keberadaan dua lapisan repertoar ini memperlihatkan bahwa tradisi tidak berhenti pada pelestarian, tetapi juga membuka ruang bagi inovasi.

Perubahan juga terjadi pada struktur musikal, khususnya dalam penggunaan instrumen reong. Jika sebelumnya hanya menggunakan empat reong, kini berkembang menjadi delapan hingga sembilan reong. Penambahan ini tidak hanya memperkaya tekstur bunyi, tetapi juga menunjukkan adanya upaya untuk meningkatkan kompleksitas musikal. Dalam perspektif yang lebih luas, perubahan ini dapat dibaca sebagai respons terhadap perubahan selera estetika, baik dari pelaku maupun audiens.

Dari sisi kelembagaan, kelompok ini telah memiliki kas yang digunakan untuk perawatan alat dan pengembangan kelompok. Meskipun sederhana, keberadaan kas ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif akan pentingnya keberlanjutan. Ia menjadi bentuk konkret dari upaya menjaga agar praktik seni tetap dapat berjalan di tengah berbagai keterbatasan.

Di tengah seluruh dinamika tersebut, suara para pelaku menjadi elemen yang paling penting. Nursah (58) dan Nursaman (70) tidak berbicara dalam bahasa konseptual atau kebijakan, tetapi dalam ungkapan yang sangat sederhana: agar kelompok ini tidak “melempem”. Di balik ungkapan tersebut, tersimpan kekhawatiran sekaligus harapan—bahwa tradisi yang telah mereka jaga selama puluhan tahun dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Harapan lain yang muncul adalah adanya sinergi antara seni dan pariwisata. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa keterlibatan dalam sektor pariwisata dapat memberikan ruang hidup yang lebih luas bagi Gendang Beleq. Namun, sinergi tersebut masih membutuhkan dukungan yang lebih sistematis agar tidak hanya bersifat sporadis, tetapi menjadi bagian dari strategi pemajuan kebudayaan yang berkelanjutan.

Dalam kerangka yang lebih luas, Gendang Beleq Eka Marga Budaya memperlihatkan bahwa keberlanjutan tradisi tidak hanya bergantung pada upaya pelestarian, tetapi juga pada kemampuan untuk beradaptasi. Tradisi di sini bukan sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang terus bergerak—menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa kehilangan akar.

Dan mungkin, justru di situlah letak kekuatannya. Bukan pada kemegahan atau formalitas, tetapi pada ketekunan komunitas yang terus menjaga bunyi agar tetap hidup—dalam latihan yang sederhana, dalam pertunjukan yang berulang, dan dalam ingatan yang terus diwariskan. Selama bunyi itu masih dimainkan, selama itu pula kebudayaan tetap memiliki ruang untuk hidup.