Di Dusun Karang Langu, Desa Tanjung, Gendang Beleq hadir bukan sekadar sebagai praktik kesenian, tetapi sebagai bagian dari struktur sosial yang mengikat relasi antarwarga. Dalam konteks ini, Gendang Beleq Bajang Sasak menjadi representasi penting dari bagaimana sebuah kelompok seni tumbuh, berkembang, dan beradaptasi di tengah dinamika masyarakat Lombok Utara yang terus berubah.
Didirikan pada tahun 2010 oleh
Mailastanun (60 tahun), kelompok ini sejak awal memiliki basis keanggotaan yang
cukup besar, yakni sekitar 52 orang. Saat ini, di bawah kepemimpinan Supriadi
(51 tahun), jumlah anggota aktif tercatat sebanyak 42 orang dengan rentang usia
20 hingga 30 tahun. Komposisi usia ini menunjukkan bahwa sanggar memiliki basis
generasi muda yang relatif kuat, yang menjadi penopang utama keberlanjutan
tradisi. Namun, sebagaimana banyak kelompok berbasis komunitas lainnya, proses
regenerasi berlangsung secara informal—melalui keterlibatan langsung dalam
praktik, bukan melalui sistem pendidikan yang terstruktur.
Pada fase awal berdirinya,
intensitas pementasan kelompok ini terbilang sangat tinggi. Gendang Beleq
Bajang Sasak hampir tampil setiap hari, kecuali pada hari Jumat. Frekuensi ini
tidak hanya menunjukkan tingginya permintaan, tetapi juga menandakan posisi
sentral kelompok ini dalam kehidupan sosial masyarakat. Namun, dalam
perkembangan mutakhir, intensitas tersebut mengalami penurunan. Saat ini,
rata-rata pementasan berkisar sekitar 15 kali dalam sebulan, yang sebagian
besar masih berkaitan dengan tradisi nyongkolan.
Penurunan ini tidak serta-merta
dapat dipahami sebagai kemunduran, melainkan sebagai indikasi perubahan
struktur ekosistem budaya. Meningkatnya jumlah kelompok Gendang Beleq di
wilayah Lombok Utara menciptakan distribusi kesempatan yang lebih merata, sekaligus
menghadirkan kompetisi yang lebih ketat. Dalam situasi ini, setiap kelompok
dituntut untuk menjaga kualitas sekaligus membangun strategi keberlanjutan yang
lebih adaptif.
Salah satu bentuk respons terhadap
tuntutan tersebut adalah melalui peremajaan peralatan. Bagi Gendang Beleq
Bajang Sasak, kualitas bunyi dan visual pertunjukan menjadi aspek penting dalam
mempertahankan eksistensi di tengah persaingan. Peremajaan ini tidak hanya
bersifat teknis, tetapi juga mencerminkan kesadaran akan pentingnya standar
estetika dalam konteks pertunjukan yang semakin beragam, termasuk ketika
berhadapan dengan audiens pariwisata.
Dari sisi ekonomi, kelompok ini
menerapkan struktur tarif yang relatif sistematis dan berlapis. Untuk wilayah
Desa Tanjung, tarif ditetapkan sekitar Rp2.500.000, sementara untuk luar
wilayah Tanjung berkisar antara Rp2.500.000 hingga Rp3.500.000, di luar biaya
transportasi. Untuk pementasan luar kota, tarif dapat mencapai Rp5.000.000
hingga Rp6.000.000, bahkan hingga Rp7.000.000 apabila mengharuskan menginap.
Skema ini menunjukkan adanya rasionalitas ekonomi yang mempertimbangkan jarak,
durasi, dan kompleksitas pertunjukan.
Namun demikian, dimensi ekonomi
tidak sepenuhnya menggantikan nilai sosial yang telah lama melekat. Dalam
konteks internal dan komunitas, terdapat fleksibilitas tarif yang cukup
signifikan. Anggota hanya dikenakan kontribusi sekitar Rp50.000, ditambah beras
pati beserta perlengkapan penginang seperti sirih, kapur, tembakau, dan pinang.
Untuk keluarga inti anggota, tarif sekitar Rp250.000, sementara untuk warga
dusun sekitar Rp1.000.000. Skema ini menunjukkan bahwa Gendang Beleq tetap
berfungsi sebagai institusi sosial yang menjaga solidaritas dan kebersamaan,
bukan semata-mata sebagai entitas ekonomi.
Dimensi kolektivitas ini juga
tercermin dalam praktik sosial masyarakat yang masih kuat menjaga kebersamaan.
Keterlibatan dalam pertunjukan tidak hanya dilihat sebagai pekerjaan, tetapi
sebagai bagian dari relasi sosial yang harus dijaga. Namun, dinamika kehidupan
modern turut memengaruhi pola keterlibatan tersebut. Saat ini, frekuensi
pementasan yang mengharuskan menginap mulai berkurang, terutama karena banyak
anggota yang masih berada dalam usia sekolah atau memiliki kewajiban
pendidikan. Hal ini menunjukkan adanya negosiasi antara praktik seni dan
kebutuhan pendidikan generasi muda.
Dalam ranah prestasi, Gendang Beleq
Bajang Sasak menunjukkan capaian yang cukup signifikan dengan meraih Juara I
tingkat kabupaten pada tahun 2024. Prestasi ini tidak hanya menjadi simbol
pengakuan kualitas artistik, tetapi juga memperkuat posisi kelompok dalam peta
persaingan lokal. Selain itu, kelompok ini juga telah beberapa kali tampil di
ruang-ruang pariwisata seperti hotel dan vila, yang menandai keterlibatan
mereka dalam ekonomi budaya yang lebih luas.
Secara musikal, kekayaan kelompok
ini tercermin dalam repertoar gending yang beragam, seperti Smarandana, Kidung
Dalem, Pituah Dengan Toaq, Bau Sebie, Bajang Udu, Anjani, Ujan Mas, Reres Daun,
Kecial Kuning, Rangsangan, hingga Turun Tangis. Di samping itu, terdapat pula
tiga gending yang dikategorikan sebagai sakral, yaitu Setinjol, Bedeser, dan
Ketejer. Kehadiran dua lapisan repertoar ini—profan dan sakral—menunjukkan
bahwa Gendang Beleq tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki
dimensi spiritual yang tetap dijaga.
Di tengah seluruh dinamika
tersebut, muncul kesadaran kolektif di kalangan pelaku mengenai pentingnya
pembentukan forum Gendang Beleq di Kabupaten Lombok Utara. Forum ini diharapkan
tidak hanya menjadi ruang koordinasi, tetapi juga wadah untuk membangun kesepahaman
bersama, terutama dalam hal standar harga dan pengembangan kebudayaan. Dalam
konteks ini, kebutuhan akan forum mencerminkan tahap baru dalam perkembangan
ekosistem Gendang Beleq—dari yang bersifat sporadis menuju bentuk yang lebih
terorganisir.
Pada akhirnya, Gendang Beleq Bajang
Sasak memperlihatkan bagaimana sebuah kelompok seni tidak hanya bertahan
melalui pelestarian, tetapi melalui kemampuan beradaptasi terhadap perubahan
sosial, ekonomi, dan kultural. Intensitas yang menurun, kompetisi yang
meningkat, serta tuntutan profesionalisme tidak serta-merta melemahkan
eksistensi mereka, melainkan mendorong munculnya strategi-strategi baru dalam
menjaga keberlanjutan.
Dan seperti banyak praktik budaya
lainnya, kekuatan mereka tidak semata terletak pada seberapa sering mereka
tampil, tetapi pada seberapa kuat mereka menjaga relasi—dengan sesama anggota,
dengan masyarakat, dan dengan tradisi itu sendiri. Selama relasi itu tetap
terjaga, selama itu pula Gendang Beleq akan terus hidup, tidak hanya sebagai
bunyi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sosial yang lebih luas.

0 Komentar